Monday, June 20, 2011

In Between: Reality and Fantasy



Kemarin malam, terus kemarin-marinnya lagi, saya iseng browsing Wikipedia.org sebelum tidur, bagian in the news. Lewat artikel '2011 Syrian Uprising', saya jadi tahu kalau setelah Mesir, Tunisia, sekarang giliran Syria yang ngalamin pergolakan politik (ketahuan nggak pernah nonton berita). Orang-orang demo di mana-mana, nuntut perubahan.

Tapi di artikel itu ada yang lebih menarik buat saya dibanding tentang ribut-ributnya itu sendiri: sebuah blog.
Ciee mentang-mentang blogger....
Bukan, bukan gara-gara itu.

Mungkin kalian sudah tahu (atau jangan-jangan... emang cuma saya yang baru tahu),
judul blog itu 'A Gay Girl In Damascus'.

Judulnya saja sudah bikin penasaran kan.

Ya, blog ini isinya curhatan seorang wanita yang mengaku bernama Amina, kelahiran Amerika-Syria, lesbian, dan tinggal di Syria. Postingnya kebanyakan komentar tentang perjuangan Syria dalam mencapai kemerdekaan dilihat dari sudut pandang warga sipil, juga tentang kondisi sosial di sana. Apalagi dengan statusnya sebagai lesbian. Di negara yang nganut Islam konservatif. Bisa-bisa dihukum pancung.

Dan ya, blognya menarik perhatian banyak orang. Salah satu postingnya yang terkenal adalah 'My father, the hero'. Di sini Amina cerita tentang bagaimana sang ayah melindungi dia dari dua petugas keamanan yang mau nahan dia karena tulisan-tulisannya. Oh, bukan berniat nahan aja sebetulnya, tapi juga ngancem mau memperkosa. Tapi ayahnya, tanpa adu otot apalagi senjata, berhasil 'memukul' mundur dua orang itu.

Setelah posting itu, popularitas blog itu melonjak.
Orang-orang memuji keberanian Amina untuk terus bersuara lewat tulisan-tulisannya. Orang-orang merasakan perjuangannya. Orang-orang bersimpati untuknya. Dukungan datang dari berbagai penjuru, baik dari mereka yang peduli isu di Timur Tengah maupun dari kaum LGBT. Karena itu, mereka luar biasa cemas, bahkan marah, ketika tanggal 6 Juni, Amina dikabarkan telah diculik.

Pada 7 Juni, 10.000 orang terkumpul di gerakan 'The Free Amina Arraf' di Facebook dalam waktu semalam. Malah sampai ada seorang jurnalis sampai memohon keterlibatan pemerintah U.S. dalam pembebasan Amina Arraf.



"U.S. government should...use its power and influence to call for Arraf's release." - Andrew Belonsky, Brooklyn Journalist


Respon yang heboh.

Kamu kira itu puncaknya? Belum. Karena pada tanggal 8 Juni, ada seorang wanita Kroasia, Jelena Lecic, yang mengklaim bahwa foto diri Amina Arraf yang dipajang di blog dan diberitakan di media sebenarnya adalah foto dirinya....


Jeger.

Ya. Amina Arraf yang dicemaskan, dibela, dielu-elukan banyak orang, yang kisah hidupnya menjadi inspirasi banyak golongan, ternyata cuma HOAX. Tidak nyata. Karakter buatan.
Penulis asli blog itu adalah Tom MacMaster, warga negara Amerika, dan sama sekali bukan gay. Dia mengaku bahwa ia membuat karakter Amina supaya ia lebih bebas berkomentar dan berdiskusi tentang isu Timur Tengah, dan sama sekali tidak menyangka tokoh fiktifnya itu akan sefenomenal ini.

Plot penculikan Amina? MacMaster menulisnya supaya orang-orang tidak bingung atas absennya tulisan di blog itu selama dirinya berlibur ke Turki.

Brilian.

Saya tidak perlu cerita seberapa tidak senang dan kecewanya kaum LGBT, penduduk Syria, dan segenap pendukungnya atas fakta itu. Merasa tertipu.




"If [MacMaster] had not been so emotionally resonant, so detailed, so seemingly 'real,' nobody would have cared so much when Amina disappeared, and nobody would have worked so hard to figure out what might have happened to her, and nobody would have learned that she was a pale man from Georgia. Which meant that, at least according to a chilling and narrow definition of what it means to be real on the Internet, Tom MacMaster was very good indeed at being Amina." - Monica Hesse, Washington Post


Saya bukan termasuk mereka yang dikecewakan itu. Saya tahu tentang ini setelah Amina terbukti hoax. Jadinya saya cuma bisa kagum sama MacMaster, betapa tulisannya bisa mengecoh banyak orang.
Dan untuk yang kesekian kalinya saya mikir, betapa kuat pengaruh dari sebuah tulisan.

Entah kenapa MacMaster mutusin buat nulis ini di blog. Mungkin biar lebih nyata. Atau sekedar supaya bisa bertukar pendapat. Padahal kalau dia nulis di buku, saya rasa orang-orang nggak bakal semarah itu kalau tahu Amina nggak nyata. Dan lagi, penulis tetap saja bisa menipiskan batas nyata dan tidak.

Misalnya novel The Kite Runner, yang banyak nyinggung kondisi perang dan sosial di Afghanistan.

ini poster filmnya

Entah saya yang masih anak bawang, belum pernah baca novel sebagus itu, atau memang Khaled Hosseini yang kelewat jago, tapi dulu saya sempet mikir: tokoh Amir itu beneran ada nggak ya? Belakangan saya sadar itu fiktif, tapi konflik perang, datangnya Taliban, rendahnya status sosial perempuan di sana, itu fakta.

J. K. Rowling juga, menyelipkan fiksi di antara fakta, fakta di antara fiksi, peron 9 3/4 di antara peron 9 dan 10, membangun dunianya sendiri di atas dasar kepercayaan orang atas sesuatu yang diyakini telah ada: penyihir.



Meski kita tahu kalau sebagian besar cerita Harry Potter itu karangan belaka, rasanya kita ingin percaya kalau dunia itu benar-benar ada.


Mau ngaku sedikit...
Pembaca Harry Potter pasti tahu kalau setiap anak-anak yang punya bakat sihir pasti dikirimin surat saat mereka umur 11 tahun. Surat pemberitahuan bahwa mereka masuk Hogwarts, yang dianter burung hantu.
Nah...
Dulu menjelang saya ulang tahun yang ke-11, saya setengah ngarep beneran ada burung hantu yang mampir ke jendela rumah saya (ya, ketawa sesuka kalian). Setelah ulang tahun ke-12, harapan saya pupus.
Ternyata saya cuma Muggle biasa.

 Tapi, hei, ternyata saya nggak sendirian! Saya pernah baca tentang orang-orang yang berkali-kali mencoba menabrakkan diri ke tiang di antara peron 9 dan 10 di King's Cross, berharap bisa nembus ke peron 9 3/4, meskipun udah berkali-kali ditegur sama petugas stasiun. Sampai akhirnya betul-betul dipasang palang 'Platform 9 3/4' di tiang itu. Hahaha... Seenggaknya saya nggak sampai kayak gitu kan? Ya kan? Kan?




Menulis itu menciptakan fantasi, dan mempertipis batasnya dengan kenyataan.
Saya salut buat penulis yang bisa menarik pembacanya ke dalam dunia yang mereka ciptakan, membuat pembacanya percaya apa yang mereka tuliskan, mempengaruhi pembacanya dengan apa yang mereka pikirkan.

Saya mau jadi salah satunya.
Dan akan jadi salah satunya (AMIN!)






- Kronologi lengkap 'A Gay Girl In Damascus' versi wikipedia: ini
- Berhubung 'A Gay Girl In Damascus' udah ditutup, bagi yang penasaran sama posting 'My Father, The Hero', bisa lihat salinan postingannya di sini :) 



image source image source image source

Thursday, June 16, 2011

Hail, Writers!



Tadi saya habis nonton Mata Najwa, yang malam ini ngebahas tentang dunia persepakbolaan di Indonesia.

Tepatnya, membuka seberapa kotor konspirasi di dunia bola.

Bukannya berarti saya rajin ngikutin perkembangan persepakbolaan Indo, tapi saya memang suka nonton Mata Najwa kalo kebetulan lagi tayang, karena biasanya ulasannya menarik, membuka wawasan baru, dan terkadang fenomenal...

...seperti hari ini. Eh, fenomenal atau nggak-nya itu subjektif ya. Bagi saya sih begitu, karena saya baru dengar. Saya baru tahu kalau keputusan wasit itu bisa dibeli. Malah tadi si narasumber bilang, dia berani jamin bahwa 99,99 % wasit pasti mau nerima suap.

Saya cuma bisa ngurut dada.

Profesi yang bisa 'dibeli' itu nggak asing di Indonesia. Hakim yang disuap, pengacara yang disuap, wartawan yang disuap... Sekarang ini lagi, bahkan wasit pun bisa disuap!
Kalau hakim atau pengacara saya ngerti lah (ngerti ya, bukan memaklumi), karena itu menyangkut kriminal, salah-salah kena denda, masuk penjara. Kalau wartawan... mereka punya kekuatan ngendaliin opini publik, membongkar borok, dan membuka aib. Wajar aja kalau dikasih uang biar tutup mulut.

Tapi ini wasit? Profesi yang berkaitan dengan notabene sekedar permainan? Walaupun kita tahu, sepakbola di sini diwarnai kepentingan politik. Duh, please lah ya....

Terus, saya ngomel-ngomel soal ini ke pacar.

Dia merespon, "Aku jadi mikir, di Indo apa coba yang bersih?"

Well... Entahlah. Saya nggak sepesimis itu sih tentang negara kita. Jelek jelek juga kita tinggal dan cari makan di sini. Walaupun negeri ini banyak boroknya, saya tetap punya harapan kok kalau luka-luka itu bakal sembuh. Biarin kalau orang bilang saya naif.

Tapi setiap dengar berita semacam ini, rasanya jengkal demi jengkal harapan yang saya punya dikikis habis. Saya nggak mau percaya, tapi ini fakta. Kecuali, tentu saja, kalau ini rekayasa belaka.

Kalau nanti negara kita benar-benar berubah ke arah yang lebih baik, saya penginnya ikut terlibat, ambil peran.  Dengan apa? Ikut berpolitik? Tidak, tidak, saya tidak mau profesi yang ribet dengan birokrasi. Birokrasi kita itu sampah. Kamu masuk sebagai orang idealis, berharap bisa mengubah semuanya, tapi ujung-ujungnya juga kena tekanan sosial. Kamu dikatai aneh kalau tidak korupsi, dikatai bodoh kalau tidak terima suap.

Namun, tidak dengan penulis. Penulis cukup duduk manis, jadi pengamat, nulis pendapat. Bisa sambil menghibur, bisa sambil mengkritik.

Misalnya kayak penulis ternama, Putu Wijaya. Saya pertama kali tahu tentangnya dari buku kumpulan cerpen di perpustakaan. Waktu itu saya baca cerpennya yang berjudul 'Suap' dan saya langsung suka. Kemarin-marin saya baru tahu kalau beliau punya blog yang isinya kumpulan cerpen yang ia tulis (eh ya kemana aja lo....). Di situ saya sadar, Putu Wijaya ahli sekali menyisipkan puntiran (twist) di akhir cerita. Meskipun kebanyakan cerpennya bertema sosial, nuansa ceritanya sama sekali tidak membosankan, karena kritik sosial di dalamnya disampaikan lewat dialog-dialog cerdas. Menghibur, tapi konstruktif.

Kelihatan kan. Apa yang ditulis penulis, itulah manifestasi pikirannya, cerminan dirinya. Gamblang. Suka ya suka, nggak ya nggak. Penulis tidak mungkin dicap bermuka dua. Mana pengaruhnya besar pula. Kurang enak apalagi coba?


Itulah, kenapa saya ngebet jadi penulis.


Tuesday, June 7, 2011

Be careful of what you wished for

Dulu, sebelum saya kepikiran buat ambil jurnalistik, saya yakin seyakin-yakinnya kalo saya bakal kuliah DKV, alias desain grafis. Karena itu, pastinya saya punya deviantART dong. Mana gaul gitu (calon) anak DKV gak punya deviantART? *halah

Tadi saya gak sengaja kebuka profil temen saya di deviantART. Ada comment saya di situ.
Di situ saya baru keinget kalo dulu saya punya signature (pesan yang bakal muncul di bawah setiap comment) kayak gini:

I wish I would die in plane crash someday.

Terus saya merinding. Saya lupa apa yang waktu itu membuat saya nulis kayak gitu. Saya langsung buru-buru login dan hapus signature saya.

Mungkin waktu itu saya tidak sadar bahwa kematian itu bukan hal main-main. Setelah umur saya bertambah, satu per satu orang yang saya kenal meninggal (sejauh ini belum orang yang benar-benar dekat dengan saya dan semoga dalam waktu dekat ini, jangan), saya mulai merasa bahwa hidup, betapapun mumet dan menyiksanya dia, itu terlalu indah untuk diharapkan supaya segera berakhir. Malah, menurut saya sebenarnya kadar kebahagiaan dalam hidup itu ditentukan kita, perspektif yang kita pilih sendiri. Makanya, sekarang saya sebel kalo denger orang ngomong, "Aduh hidup kok begini sih. Rasanya pengen mati aja deh."

It is not life which is being cruel to you, it is you that failed to see good things in life but yet trying to escape it through easiest way, coward.

Oh ya..... Saya tahu suatu hari nanti, entah kapan dan gimana caranya, saya bakal menyublim ke surga, neraka, atau mungkin malah ke dalam ketiadaan. Tapi, percayalah, kecelakaan pesawat itu hal terakhir yang saya bayangin bakal jadi cara saya meninggal.



....semoga semesta tidak mendengar permohonan saya yang hina itu.

Saturday, May 14, 2011

And I got teased by the universe...



If I were to write a night ago, my posting would be something like this:

11.05.2011
Hai. Saya baru pulang dari konser Avril Lavigne,

iya, orang ini

which is mungkin bisa dibilang event yang paling saya tunggu-tunggu sejak saya SMP. Dia cinta pertama saya dalam musik, penyanyi yang paling saya kagumi sampai sekarang. Dan saya punya sejuta alesan untuk itu, yang bakal saya tulis di postingan berikutnya.

Overall saya puaaasssss banget sama performance-nya. Suaranya nggak ngecewain, tetep oke kayak lagu aslinya, bahkan rasanya lebih oke lagi karena dia banyak improve, dia hiperaktif banget, and she seemed to be so much in passion when she sang.

Saya harap saya bisa upload foto-foto stage performance-nya dia, tapi sayangnya saya nggak bisa karena foto-foto itu ada di handphone saya dan handphone saya HILANG. Dicopet. Jeng jeng.

Uh.

Seharusnya konser ini berakhir bahagia, tapi saya malah jadi panik, sedih, hopeless. Apalagi saya disemprot habis-habisan sama papa. Saya terus nyalahin diri sendiri, kenapa nggak lebih hati-hati dst dst.

Tapi saya berusaha mikir positifnya (maksa mikir positif, sebenernya). Saya semacem percaya pasti ada alesan di balik segala sesuatu yang terjadi. Saya bukannya bermaksud mendadak filsuf, tapi ada kejadian pra-konser yang bikin saya mikir begitu.

*  *  *

Gini, saya ini boleh dibilang fans murtad. Ngaku-ngakunya ngefans berat, tapi belum punya CD terbarunya, Goodbye Lullaby.

Bukannya saya belum pernah coba cari. Waktu itu saya pernah minta tolong si pacar liatin di toko CD. Ada, best-seller pula. Tapi itu masih edisi impor, bukan produksi lokal, jadi harganya... mahal.
IDR 180 000.

Maaf, Avril. Cintaku berat di dompet.

Nah pas sebelum masuk Kartika Expo Center kemaren (tempat konsernya), ada banner bertuliskan 'CD Avril Lavigne, harga spesial'. Saya langsung ngesot ke stand itu. Bener aja, Goodbye Lullaby dijual di situ dengan harga super spesial, IDR 70 000. Rupanya produksi lokal udah keluar. Saya nggak pake mikir dua kali. Dengan muka mupeng saya ngomong,

"Mas, beli satu."

Dan ternyata saya dapet bonus posternya pula, plus kipas buat kipas-kipas. Durian runtuh abis. Semua saya masukin ke tas, tapi saya nggak berani bawa poster itu sambil nonton konser, takut rusak. Jadi saya titipin ke yang jualan. Ha. Pinter kan saya.

Pas masuk saya girang luar biasa karena ternyata stage itu deket banget sama tempat saya berdiri. Saya pun berusaha nyelip-nyelip ke barisan paling depan. Setelah melewati beberapa sikut-sikutan, kaki-kaki yang keinjek, bau badan yang ketuker, saya nyampe di barisan kedua terdepan. Di tengah usaha selip menyelip saya jadi cemas, CD di dalam tas rusak nggak ya?
Pas saya cek, kok CDnya... nggak ada.
Eh ya masa tuh CD ketinggalan di tempat saya beli ya? Perasaan tadi udah dimasukin... masa sih jatuh... masa sih diambil orang... masa sih... masa sih...

MASA SIH GUE RUGI 70 RIBU?!

Yaudalah nanti gue tanya sekalian pas ngambil poster aja, gitu pikir saya.

Sepanjang konser, terjadi gencet-gencetan yang lumayan parah. Di kiri kanan saya banyak orang yang tumbang, pingsan, kehabisan napas sampai digotong-gotong ke ruang medis. Kalau ada CD di tas saya waktu itu, saya yakin seyakin-yakinnya, pasti bakal udah patah jadi dua.

Selesai konser, saya menghampiri stand yang jualan CD itu. Ternyata bener aja, CD saya ketinggalan, udah dibungkus rapi sama mas-mas penjaga stand berikut poster saya plus kipas (lagi).

*  *  *

Kembali ke cerita handphone saya. Yah dari kejadian beli CD itu saya jadi mikir... 
Kali-kali aja ada alasan yang saya nggak tau apa dibalik hilangnya handphone saya. Kali-kali aja malingnya memang butuh banget uang, buat apa kek gitu. Yasudahlah saya telan bulat-bulat omelan papa, saya memang salah. Saya doain malingnya juga, semoga dia make use dengan baik handphone yang dia ambil itu.

*  *  *

12.05.2011
Hai. Hari ini saya merasa jadi orang paling idiot sedunia. Karena handphone saya tiba-tiba ketemu.
Di. tas. saya.

....

Tidak, tidak. Sebelum kalian ngejudge saya super ceroboh dan teledor, biar saya jelaskan kronologinya:

Berhubung di konser kemaren saya berdiri cukup sangat dekat dengan stage, 
this close


closer


no, I was not zooming

saya manfaatin kesempatan itu sebaik-baiknya: foto-foto dan rekam video sebanyak-banyaknya pakai handphone saya. Di pertengahan konser, handphone saya lowbat dan saya cape, jadi saya berusaha masukin handphone ini ke dalam tas, dalam keadaan tergencet-gencet. Pas berusaha masukin, handphone saya susah masuk, padahal tas saya cukup lowong di dalamnya. Saya pikir mungkin kehalang sesuatu, jadi saya paksa tutup saja resletingnya.

Di lagu terakhir, saya berasa ada sesuatu yang jatuh di kaki saya, cukup berat. Lalu ada orang di dekat saya yang membungkuk. Saya nunduk juga nggak keliatan apa-apa. Saya pikir pasti barang orang itu yang jatuh.

Pas konser selesai, posisi tas saya terbalik, resletingnya menghadap bawah. Perasaan saya nggak enak. Pas saya cek, handphone saya beneran nggak ada...

Ada petugas yang ngeliat saya mondar-mandir dengan wajah panik, dia nanya,
'Kenapa, Mbak?'
'Handphone saya... ilang, Pak.'
'Tadi handphonenya dipegang atau ditaro tas?'
'Ditaro tas.'
'Walahhhhh kalo ditaro tas ya pantes aja. Saya kasih saran ya, kalo nonton konser gini mending handphone tuh dipegang aja, Mbak. Kalo ditaro tas kan diambil juga nggak bakal berasa.'

Lemes lah saya.

Akhirnya saya pinjem handphone petugas itu buat nelpon papa, minta dijemput. Ya pokoknya sepanjang perjalanan pulang saya disemprot abis-abisan.

Besok paginya pas saya mau berangkat sekolah, papa nanya,
'Kamu bawa kunci (rumah) nggak?'
'Nng..nggak...'
'Kunci kamu ilang ya?'
'I...ya...'
'Kamu sih apa-apa ilang melulu!'
Saya buru-buru nyari kunci di dalam tas.

Kebetulan saya pake tas yang sama dengan tas yang saya pake kemaren.

Perlu diketahui bahwa tas saya ini punya 3 resleting.



Saya cari kunci di resleting pertama dan ketiga itu. Tapi yang saya ketemukan malah... handphone saya.

Saya pikir saya masukin handphone ke resleting yang di tengah itu. Berhubung kondisinya remang-remang dan saya kegencet-gencet, wajar kan saya salah? Ya kan?

Kejadian ini aneh. Tapi lucu.
Dan lagi-lagi saya kepikiran tentang yang pasti ada alesan di balik segala sesuatu...
Ada alesan kenapa CD saya ketinggalan di tempat saya beli.
BUKAN YA, bukan gara-gara saya pikun! (denial) Tapi supaya CD itu nggak kegencet bersama si empunya CD di tengah konser.

Entah apa alesan si handphone ini 'menghilangkan diri' sehingga bikin saya panik dan keburu hopeless duluan.

Mungkin buat negur saya...
...supaya lebih hati-hati jaga barang?
Karena sebenernya kalo dipikir-pikir, mengacung-acungkan handphone di tengah konser dalam kondisi (lagi-lagi) tergencet itu sangat rawan jambret ya...

...supaya nggak terlalu ketergantungan sama handphone saya?
Selama ini saya merasa nggak bisa lepas banget dari handphone saya, khususnya buat update status di Twitter. #ehem #eaaa #ababil
Tapi setelah kejadian handphone 'hilang' itu saya jadi sempet mikir, sebenernya kan esensi handphone cuma buat telpon dan sms. Saya jadi merasa saya memakai handphone yang sebenernya fasilitasnya tidak terlalu saya butuhkan. Saya jadi terpikir buat beli handphone yang seadanya saja.

...tapi entah kenapa ada feeling kuat bahwa sebenernya semesta berkonspirasi merancang kejadian ini sambil tertawa terbahak-bahak dan berkata,



'Why so serious?'



Saturday, May 7, 2011

Unimportance



Peringatan: ini postingan yang sedikit tidak penting.

Saya ngalamin kejadian yang cukup random hari ini: kekunci di toilet.
Toilet rumah saya, untungnya.

Saya bilang cukup random karena selama ini pintu WC saya nggak pernah bermasalah. Entah ada angin apa tiba-tiba kenop pintunya macet. Pertamanya saya panik, gedor-gedor pintunya walopun jelas nggak bakal ngefek. Terus saya coba congkel-congkel engsel pintu yang nyangkut itu. Yah... kali-kali aja kebuka kan?

Si dede coba-coba nolong, ngedobrak pintunya dari luar.
Eh bukannya sukses bikin pintunya kebuka, malah sukses bikin lampu WC saya MATI.
MATIK. Sukses bikin saya jantungan seketika.
Kok bisa ya? Mungkin dobrakannya terlalu heboh sampe bikin lampu WC putus. Apa hubungannya coba? Er.. nggak tau deh.

Jadi situasi saya naek pangkat: kekunci di toilet yang gelap gulita. Eng ing eng.
Kalo saya masih balita kecil lucu mungkin saya bakalan jadi claustrophobic abis kejadian ini.

Alhasil, saya malah duduk-duduk di atas kloset sambil nungguin abang tukang ngotak-ngatik kenop pintu, yang ternyata makan waktu cukup lama. Saya jadi... bosen. Pikiran saya jadi ngelantur kemana-mana.
Saya merasa adegan ini semacem adegan di film-film. Terperangkap di ruang gelap, sempit, dengan suara gedoran berulang-ulang di pintu, ini bisa jadi potongan cerita dari genre... apa aja.

Bisa jadi genre horor kalau bulu kuduk saya mendadak merinding, sudut mata saya menangkap bayangan yang bergerak di pojokan, dan telinga saya mendengar suara-suara yang nggak seharusnya ada. Lebih epic lagi kalau saya mulai berasa dicakar-cakar.

Bisa jadi genre thriller kalau yang lagi gedor-gedor pintu saya itu pembunuh bertopeng ini.



Bisa jadi genre fantasi kalau ini semacem adegan di Narnia, di mana saya jadi Lucy Pevensie yang lagi maen petak umpet, berusaha ngumpet di kloset dan nge-flush diri sendiri tapi ternyata malah sampe di dunia antah berantah. Tapi plis... pintu masuknya lobang WC, nggak keren banget.

Bisa jadi genre romantis kalau saya ini penjelmaan Sleeping Beauty dan abang teknisi di balik pintu adalah pangeran berkuda putih...

Yak. Bahkan lamunan saya pun mulai jadi super random dan... agak-agak freak gitu ya HAHA

Setelah hampir 1 jam, atau malah lebih, akhirnya terdengar bunyi 'ceklik' yang melegakan dan pintu pun terbuka. Lamunan ngaco saya buyar, saya ngelangkah keluar. Belakangan saya baru inget, saya lupa bilang terima kasih sama si abang teknisi, dan sampe sekarang saya masih nggak enak hati.

Saya sadar ini tulisan yang super nggak berbobot, pointless, dan nggak lebih dari curhatan ABG labil.
Mungkin ini salah satu postingan yang beberapa waktu ke depan bakal saya ketawain, "Hah? Ngapain dulu gue nulis kayak gini?"
Tapi saya udah lama nggak nulis sesuatu. Well, sebenernya udah nulis dari kemaren-maren tapi semuanya berakhir jadi sekedar draft. Jadi mumpung ada tulisan saya yang kelar, saya share aja.
Dan walopun nggak berbobot, tapi entah kenapa will saya buat nulis ini tergolong cukup 'niat'. Jadi yasudahlah.

Sekian.


image source: wearemoviegeeks.com

Sunday, April 24, 2011

365 days

It's 24th. of April. Year 2011.

Most of people would associate today with Sunday.

Christians would associate it with Easter.

But not us.

For us, this is not just another plain Sunday to get lazy on,

nor just another Easter to celebrate on.

It's supposed to be the day we reminisce that

A year ago on this exact date, we acknowledged each others' feelings
without emitting unnecessary words
because by looking into your eyes I simply understood
that the gasps between my fingers were about to be filled
that the vacant space in my heart were about to be occupied
with, no other than, your presence.

I wouldn't realize that 365 days were passed already
I didn't feel like counting those days
They say, time will surely passes in a blink of an eye
if we're doing something we fond of
True, I've never feel burdened to walk this road with your companion

I had never known before that one's day could be brighten up by a single smile of certain people
Yet, you prove it could.


I had never known before whether one could hold a feeling this massive
Yet, you prove it right.

Without intention of making this a prolix way of expressing my gratitude,
let me say this:
for making me feel warm,
for being there when there's no one to stay,
for making me taking chances I hardly take,
for willing to stay with me this far,

Thank you.

They say, nothing is forever.
But I sincerely hope,
with full consciousness of letting myself being too much naive,

we could stay this way

forever.



Friday, April 22, 2011

Freedom, at last

Resmi sudah sebulan saya nggak nge-blog. Tolong dimengerti ini bukan karena saya males atau ingkar janji, tapi karena saya nggak punya waktu. #alesan

Eh tapi sumpah ini bukan #alesan. Sekitar sebulan terakhir perhatian saya tersita buat hal yang bikin semua anak kelas 12 cape fisik dan mental: UJIAN NASIONAL

jreng jreng

Padahal UN-nya sendiri cuma 4 hari, tapi persiapannya itu ajubileeee.
Sebulan terakhir kami digenjot soal-soal latihan, ditakut-takuti anceman nggak lulus, digoda oleh tawaran buat beli soal, dll dll pokoknya hectic banget sampai saya mikir, dulu pas UN SMP rasanya nggak seheboh ini deh. Bener.

Tapi kini...

Ijinkan saya jungkir balik, salto, roll  depan, dan kayang sampe patah tulang karena akhirnya

UN SUDAH SELESAI.



YEAH.

*jungkir balik, salto, roll depan, dan kayang sampe patah tulang*

well, resminya kemaren sih.

Readers, you probably don't really know how much I've been wanting for this day to come. No, not wanting. More like craving.

Craving for the day I left my senior high-school life right behind.

Saya sudah bosan, boleh dibilang jenuh, dengan masa SMA.
Saya bosan dengan lingkungan yang itu-itu aja. Saya bosan dengan fase yang sepertinya stagnan. Saya bosan dengan tempat di mana saya tidak bisa berkembang. Pokoknya bosan.

Katanya, masa SMA itu masa-masa paling indah dan tak terlupakan. Nggak bilang itu salah, karena pas SMA itu emang banyak kejadian lucu, rame, pertemanan yang katanya unyu, bla bla bla.

Memorable, sih.

Tapi entah kenapa saya nggak ngalamin yang semacem "aduh rasanya sayang ya, nggak pengen lulus deh", which I thought I would (based on people's confessions upon this high school thingy). Saya jelas-jelas pengen cepat-cepat lulus.

Saya sempet cerita ke beberapa orang tentang ini. Some say I would kinda regret it and gonna miss it later. But I don't see that coming, somehow. I definitely want to move forward.

Anyhow... I am fully excited about the upcoming holiday.

Liburan kali ini panjang banget memang, sekitar 4-5 bulan sampe sebelum masuk kuliah.
Tapi saya punya banyak rencana buat liburan ini. Hal teratas dalam daftar saya: habisin literatur yang masih menggunung. Ya, sebagian besar buku dari daftar holiday plan saya yang lalu masih belum saya sentuh.

Bagi saya, hedon itu laper mata dan belanja buku-buku yang belum tentu sempet saya baca. Jadi, yah gini deh jadinya. Saya pengin selesain semua buku itu dengan satu motivasi: supaya bisa beli lebih banyak buku lagi.

Sincerely hoping that I wouldn't get bored sometime later in this 5-months-length holiday.

Terakhir, selamat Hari Bumi



dan selamat Jumat Agung bagi yang merayakan! :)