Showing posts with label THOUGHTS. Show all posts
Showing posts with label THOUGHTS. Show all posts

Saturday, March 3, 2012

Dark Ages

When you have settled the point you've wanted to reach, it would be rather easy to plan steps in order to get you to it, though it wouldn't be easy to stay faithful to your plans.
But what if you haven't?
What if you don't know?

I don't know what I've been aiming in life
I wander aimlessly
This depressing thought, corroborated with hormone instability due to monthly period (which I didn’t aware of) , brought me to think of extreme choices
I thought of retaking SNMPTN test in order to change major,
I thought of paying my own tuition
I thought of taking hiatus academically
Pretty insensible, but I took these choices seriously at that time
I questioned whether my decision to be involved in organisations was right or not
I try many things impulsively, because I'm afraid I'll do nothing
I don't know whether it will relate to what I've been aiming or not
I don't know whether I could gain anything from it or it rather costs me things instead
I got lost.


Seems like,
These are the darkest ages in my life.

(Not in term of life adversity, of course,
but rather in term of life direction)


But, as they say,
"It's always been darkest before dawn."

One, probably, must always falls to the lowest level before she can jump to reach the highest point in her life.
How could one knows what success is when she knows no failure?
Didn't J. K. Rowling has to taste the bitterness of failure marriage and joblessness before she finally become so very determined upon what she had been doing?
Didn't Paulo Coelho has to experience the word 'lost' itself before he finally was spiritually enlightened?

Hence, maybe, if I hang on
This phase will eventually pass on
I will eventually see a glimpse of illumination at the end of the road




22. 2. 2012
After getting out of one of those classes,
and was like 'What the hell was that?!'

Thursday, August 18, 2011

66 Years

Basi banget ya saya nulis ini di kala hari sudah berganti, orang-orang sudah mau tidur, euforianya sudah surut. Tapi ya biarlah. Lebih baik terlambat daripada tidak ada.


Semenjak pagi, sejak jam 12 malam lalu tepatnya, lini masa Twitter saya dipenuhi orang-orang yang ngucapin 'MERDEKA', 'Selamat ulang tahun, Indonesia!', bla bla bla dan sebagainya.


Jadi saya mau ikutan.


Selamat hari jadi ke-66, Indonesia.


Semoga makin dicintai rakyatmu, selalu dan senantiasa, bukannya musiman.
Semoga mereka yang mengucap berbangga jadi bagian darimu hari ini, bisa berkata demikian pula di ulang tahunmu yang berikutnya.
Semoga jumlah mereka tidak berkurang.
Semoga mereka yang mengaku cinta padamu tidak sekedar bermanis mulut saja.
Semoga mereka berani melakukan apa yang mereka cita-citakan untukmu,
Semoga mereka gigih mencetuskan perubahan.
Dan sampai saat itu tiba, semoga kamu mau bersabar,
bertahan, berdiri meskipun gemetar karena luka.
66 tahun kamu menanti.
Akan ada yang membawamu pada perbaikan.
Mungkin bukan kami, bukan di masa kami.
Apalagi tikus-tikus berjas yang mengaku pemerintah itu.
Mungkin bukan kami, tapi semoga semangat kami tidak mati.
Semoga kami tidak putus harapan.
Semoga semangat ini terwariskan, hingga nanti ada yang menyembuhkan luka-lukamu.
Dan sampai saat itu tiba, semoga kamu mampu bertahan,
meski sekarat karena dikhianati oleh kami.



Monday, July 18, 2011

Terrified

Have you ever

afraid that whole your life, you will end up neither doing something nor make significant deeds?

I have.

In fact, I do feel that way
Every single day

Hearing stories about geniuses who made achievements I can't even think of,
people who have successfully succeeded and been brilliant in their youth,
is motivating.
But yet also frightens me.

I do not see myself in the future as housewife who has nothing to do instead of taking care of households each day.
I have high standards.
I have dreams, I have hopes.
I have plans.
I even preached that I should have done something before 20, something I could be proud of
And to think that I have less than 3 years to go...
is rather depressing.
Why?
If my anxiety come true: that I had done nothing until the moment I passed my 20th birthday
I really am afraid
that all the plans I have planned won't go along as well
And I will die being nobody
...

It is 00.02 AM here. A day had just passed.
And if you ever wonder, why the hell I write this very unimportant writing
It is because I am terrified
that I will waste another day again doing nothing.




Sunday, July 17, 2011

Prayer

On the note of being black, white, asian, caucasian, melanisian, african, et cetera...
On the note of racism issues.


"Tuhan, kenapa kau ciptakan kami berbeda?
Tapi tak kau buat kami cukup pintar untuk mengerti bahwa kami semua sama...?"


Thursday, June 16, 2011

Hail, Writers!



Tadi saya habis nonton Mata Najwa, yang malam ini ngebahas tentang dunia persepakbolaan di Indonesia.

Tepatnya, membuka seberapa kotor konspirasi di dunia bola.

Bukannya berarti saya rajin ngikutin perkembangan persepakbolaan Indo, tapi saya memang suka nonton Mata Najwa kalo kebetulan lagi tayang, karena biasanya ulasannya menarik, membuka wawasan baru, dan terkadang fenomenal...

...seperti hari ini. Eh, fenomenal atau nggak-nya itu subjektif ya. Bagi saya sih begitu, karena saya baru dengar. Saya baru tahu kalau keputusan wasit itu bisa dibeli. Malah tadi si narasumber bilang, dia berani jamin bahwa 99,99 % wasit pasti mau nerima suap.

Saya cuma bisa ngurut dada.

Profesi yang bisa 'dibeli' itu nggak asing di Indonesia. Hakim yang disuap, pengacara yang disuap, wartawan yang disuap... Sekarang ini lagi, bahkan wasit pun bisa disuap!
Kalau hakim atau pengacara saya ngerti lah (ngerti ya, bukan memaklumi), karena itu menyangkut kriminal, salah-salah kena denda, masuk penjara. Kalau wartawan... mereka punya kekuatan ngendaliin opini publik, membongkar borok, dan membuka aib. Wajar aja kalau dikasih uang biar tutup mulut.

Tapi ini wasit? Profesi yang berkaitan dengan notabene sekedar permainan? Walaupun kita tahu, sepakbola di sini diwarnai kepentingan politik. Duh, please lah ya....

Terus, saya ngomel-ngomel soal ini ke pacar.

Dia merespon, "Aku jadi mikir, di Indo apa coba yang bersih?"

Well... Entahlah. Saya nggak sepesimis itu sih tentang negara kita. Jelek jelek juga kita tinggal dan cari makan di sini. Walaupun negeri ini banyak boroknya, saya tetap punya harapan kok kalau luka-luka itu bakal sembuh. Biarin kalau orang bilang saya naif.

Tapi setiap dengar berita semacam ini, rasanya jengkal demi jengkal harapan yang saya punya dikikis habis. Saya nggak mau percaya, tapi ini fakta. Kecuali, tentu saja, kalau ini rekayasa belaka.

Kalau nanti negara kita benar-benar berubah ke arah yang lebih baik, saya penginnya ikut terlibat, ambil peran.  Dengan apa? Ikut berpolitik? Tidak, tidak, saya tidak mau profesi yang ribet dengan birokrasi. Birokrasi kita itu sampah. Kamu masuk sebagai orang idealis, berharap bisa mengubah semuanya, tapi ujung-ujungnya juga kena tekanan sosial. Kamu dikatai aneh kalau tidak korupsi, dikatai bodoh kalau tidak terima suap.

Namun, tidak dengan penulis. Penulis cukup duduk manis, jadi pengamat, nulis pendapat. Bisa sambil menghibur, bisa sambil mengkritik.

Misalnya kayak penulis ternama, Putu Wijaya. Saya pertama kali tahu tentangnya dari buku kumpulan cerpen di perpustakaan. Waktu itu saya baca cerpennya yang berjudul 'Suap' dan saya langsung suka. Kemarin-marin saya baru tahu kalau beliau punya blog yang isinya kumpulan cerpen yang ia tulis (eh ya kemana aja lo....). Di situ saya sadar, Putu Wijaya ahli sekali menyisipkan puntiran (twist) di akhir cerita. Meskipun kebanyakan cerpennya bertema sosial, nuansa ceritanya sama sekali tidak membosankan, karena kritik sosial di dalamnya disampaikan lewat dialog-dialog cerdas. Menghibur, tapi konstruktif.

Kelihatan kan. Apa yang ditulis penulis, itulah manifestasi pikirannya, cerminan dirinya. Gamblang. Suka ya suka, nggak ya nggak. Penulis tidak mungkin dicap bermuka dua. Mana pengaruhnya besar pula. Kurang enak apalagi coba?


Itulah, kenapa saya ngebet jadi penulis.


Tuesday, June 7, 2011

Be careful of what you wished for

Dulu, sebelum saya kepikiran buat ambil jurnalistik, saya yakin seyakin-yakinnya kalo saya bakal kuliah DKV, alias desain grafis. Karena itu, pastinya saya punya deviantART dong. Mana gaul gitu (calon) anak DKV gak punya deviantART? *halah

Tadi saya gak sengaja kebuka profil temen saya di deviantART. Ada comment saya di situ.
Di situ saya baru keinget kalo dulu saya punya signature (pesan yang bakal muncul di bawah setiap comment) kayak gini:

I wish I would die in plane crash someday.

Terus saya merinding. Saya lupa apa yang waktu itu membuat saya nulis kayak gitu. Saya langsung buru-buru login dan hapus signature saya.

Mungkin waktu itu saya tidak sadar bahwa kematian itu bukan hal main-main. Setelah umur saya bertambah, satu per satu orang yang saya kenal meninggal (sejauh ini belum orang yang benar-benar dekat dengan saya dan semoga dalam waktu dekat ini, jangan), saya mulai merasa bahwa hidup, betapapun mumet dan menyiksanya dia, itu terlalu indah untuk diharapkan supaya segera berakhir. Malah, menurut saya sebenarnya kadar kebahagiaan dalam hidup itu ditentukan kita, perspektif yang kita pilih sendiri. Makanya, sekarang saya sebel kalo denger orang ngomong, "Aduh hidup kok begini sih. Rasanya pengen mati aja deh."

It is not life which is being cruel to you, it is you that failed to see good things in life but yet trying to escape it through easiest way, coward.

Oh ya..... Saya tahu suatu hari nanti, entah kapan dan gimana caranya, saya bakal menyublim ke surga, neraka, atau mungkin malah ke dalam ketiadaan. Tapi, percayalah, kecelakaan pesawat itu hal terakhir yang saya bayangin bakal jadi cara saya meninggal.



....semoga semesta tidak mendengar permohonan saya yang hina itu.

Saturday, May 14, 2011

And I got teased by the universe...



If I were to write a night ago, my posting would be something like this:

11.05.2011
Hai. Saya baru pulang dari konser Avril Lavigne,

iya, orang ini

which is mungkin bisa dibilang event yang paling saya tunggu-tunggu sejak saya SMP. Dia cinta pertama saya dalam musik, penyanyi yang paling saya kagumi sampai sekarang. Dan saya punya sejuta alesan untuk itu, yang bakal saya tulis di postingan berikutnya.

Overall saya puaaasssss banget sama performance-nya. Suaranya nggak ngecewain, tetep oke kayak lagu aslinya, bahkan rasanya lebih oke lagi karena dia banyak improve, dia hiperaktif banget, and she seemed to be so much in passion when she sang.

Saya harap saya bisa upload foto-foto stage performance-nya dia, tapi sayangnya saya nggak bisa karena foto-foto itu ada di handphone saya dan handphone saya HILANG. Dicopet. Jeng jeng.

Uh.

Seharusnya konser ini berakhir bahagia, tapi saya malah jadi panik, sedih, hopeless. Apalagi saya disemprot habis-habisan sama papa. Saya terus nyalahin diri sendiri, kenapa nggak lebih hati-hati dst dst.

Tapi saya berusaha mikir positifnya (maksa mikir positif, sebenernya). Saya semacem percaya pasti ada alesan di balik segala sesuatu yang terjadi. Saya bukannya bermaksud mendadak filsuf, tapi ada kejadian pra-konser yang bikin saya mikir begitu.

*  *  *

Gini, saya ini boleh dibilang fans murtad. Ngaku-ngakunya ngefans berat, tapi belum punya CD terbarunya, Goodbye Lullaby.

Bukannya saya belum pernah coba cari. Waktu itu saya pernah minta tolong si pacar liatin di toko CD. Ada, best-seller pula. Tapi itu masih edisi impor, bukan produksi lokal, jadi harganya... mahal.
IDR 180 000.

Maaf, Avril. Cintaku berat di dompet.

Nah pas sebelum masuk Kartika Expo Center kemaren (tempat konsernya), ada banner bertuliskan 'CD Avril Lavigne, harga spesial'. Saya langsung ngesot ke stand itu. Bener aja, Goodbye Lullaby dijual di situ dengan harga super spesial, IDR 70 000. Rupanya produksi lokal udah keluar. Saya nggak pake mikir dua kali. Dengan muka mupeng saya ngomong,

"Mas, beli satu."

Dan ternyata saya dapet bonus posternya pula, plus kipas buat kipas-kipas. Durian runtuh abis. Semua saya masukin ke tas, tapi saya nggak berani bawa poster itu sambil nonton konser, takut rusak. Jadi saya titipin ke yang jualan. Ha. Pinter kan saya.

Pas masuk saya girang luar biasa karena ternyata stage itu deket banget sama tempat saya berdiri. Saya pun berusaha nyelip-nyelip ke barisan paling depan. Setelah melewati beberapa sikut-sikutan, kaki-kaki yang keinjek, bau badan yang ketuker, saya nyampe di barisan kedua terdepan. Di tengah usaha selip menyelip saya jadi cemas, CD di dalam tas rusak nggak ya?
Pas saya cek, kok CDnya... nggak ada.
Eh ya masa tuh CD ketinggalan di tempat saya beli ya? Perasaan tadi udah dimasukin... masa sih jatuh... masa sih diambil orang... masa sih... masa sih...

MASA SIH GUE RUGI 70 RIBU?!

Yaudalah nanti gue tanya sekalian pas ngambil poster aja, gitu pikir saya.

Sepanjang konser, terjadi gencet-gencetan yang lumayan parah. Di kiri kanan saya banyak orang yang tumbang, pingsan, kehabisan napas sampai digotong-gotong ke ruang medis. Kalau ada CD di tas saya waktu itu, saya yakin seyakin-yakinnya, pasti bakal udah patah jadi dua.

Selesai konser, saya menghampiri stand yang jualan CD itu. Ternyata bener aja, CD saya ketinggalan, udah dibungkus rapi sama mas-mas penjaga stand berikut poster saya plus kipas (lagi).

*  *  *

Kembali ke cerita handphone saya. Yah dari kejadian beli CD itu saya jadi mikir... 
Kali-kali aja ada alasan yang saya nggak tau apa dibalik hilangnya handphone saya. Kali-kali aja malingnya memang butuh banget uang, buat apa kek gitu. Yasudahlah saya telan bulat-bulat omelan papa, saya memang salah. Saya doain malingnya juga, semoga dia make use dengan baik handphone yang dia ambil itu.

*  *  *

12.05.2011
Hai. Hari ini saya merasa jadi orang paling idiot sedunia. Karena handphone saya tiba-tiba ketemu.
Di. tas. saya.

....

Tidak, tidak. Sebelum kalian ngejudge saya super ceroboh dan teledor, biar saya jelaskan kronologinya:

Berhubung di konser kemaren saya berdiri cukup sangat dekat dengan stage, 
this close


closer


no, I was not zooming

saya manfaatin kesempatan itu sebaik-baiknya: foto-foto dan rekam video sebanyak-banyaknya pakai handphone saya. Di pertengahan konser, handphone saya lowbat dan saya cape, jadi saya berusaha masukin handphone ini ke dalam tas, dalam keadaan tergencet-gencet. Pas berusaha masukin, handphone saya susah masuk, padahal tas saya cukup lowong di dalamnya. Saya pikir mungkin kehalang sesuatu, jadi saya paksa tutup saja resletingnya.

Di lagu terakhir, saya berasa ada sesuatu yang jatuh di kaki saya, cukup berat. Lalu ada orang di dekat saya yang membungkuk. Saya nunduk juga nggak keliatan apa-apa. Saya pikir pasti barang orang itu yang jatuh.

Pas konser selesai, posisi tas saya terbalik, resletingnya menghadap bawah. Perasaan saya nggak enak. Pas saya cek, handphone saya beneran nggak ada...

Ada petugas yang ngeliat saya mondar-mandir dengan wajah panik, dia nanya,
'Kenapa, Mbak?'
'Handphone saya... ilang, Pak.'
'Tadi handphonenya dipegang atau ditaro tas?'
'Ditaro tas.'
'Walahhhhh kalo ditaro tas ya pantes aja. Saya kasih saran ya, kalo nonton konser gini mending handphone tuh dipegang aja, Mbak. Kalo ditaro tas kan diambil juga nggak bakal berasa.'

Lemes lah saya.

Akhirnya saya pinjem handphone petugas itu buat nelpon papa, minta dijemput. Ya pokoknya sepanjang perjalanan pulang saya disemprot abis-abisan.

Besok paginya pas saya mau berangkat sekolah, papa nanya,
'Kamu bawa kunci (rumah) nggak?'
'Nng..nggak...'
'Kunci kamu ilang ya?'
'I...ya...'
'Kamu sih apa-apa ilang melulu!'
Saya buru-buru nyari kunci di dalam tas.

Kebetulan saya pake tas yang sama dengan tas yang saya pake kemaren.

Perlu diketahui bahwa tas saya ini punya 3 resleting.



Saya cari kunci di resleting pertama dan ketiga itu. Tapi yang saya ketemukan malah... handphone saya.

Saya pikir saya masukin handphone ke resleting yang di tengah itu. Berhubung kondisinya remang-remang dan saya kegencet-gencet, wajar kan saya salah? Ya kan?

Kejadian ini aneh. Tapi lucu.
Dan lagi-lagi saya kepikiran tentang yang pasti ada alesan di balik segala sesuatu...
Ada alesan kenapa CD saya ketinggalan di tempat saya beli.
BUKAN YA, bukan gara-gara saya pikun! (denial) Tapi supaya CD itu nggak kegencet bersama si empunya CD di tengah konser.

Entah apa alesan si handphone ini 'menghilangkan diri' sehingga bikin saya panik dan keburu hopeless duluan.

Mungkin buat negur saya...
...supaya lebih hati-hati jaga barang?
Karena sebenernya kalo dipikir-pikir, mengacung-acungkan handphone di tengah konser dalam kondisi (lagi-lagi) tergencet itu sangat rawan jambret ya...

...supaya nggak terlalu ketergantungan sama handphone saya?
Selama ini saya merasa nggak bisa lepas banget dari handphone saya, khususnya buat update status di Twitter. #ehem #eaaa #ababil
Tapi setelah kejadian handphone 'hilang' itu saya jadi sempet mikir, sebenernya kan esensi handphone cuma buat telpon dan sms. Saya jadi merasa saya memakai handphone yang sebenernya fasilitasnya tidak terlalu saya butuhkan. Saya jadi terpikir buat beli handphone yang seadanya saja.

...tapi entah kenapa ada feeling kuat bahwa sebenernya semesta berkonspirasi merancang kejadian ini sambil tertawa terbahak-bahak dan berkata,



'Why so serious?'



Monday, February 14, 2011

to thank that we are mediocre

This post was actually somewhat related to my previous post.

Two days ago I was reading GoGirl! Magazine’s 6th anniversary edition.


Most of the readers praised this ‘Celebrities and Trends’ themed edition for its thickness, its excessive amount of fashion spread, cute tumbler that was bundled along as a bonus (it was reaaaally cute). It takes some time for me to get to this article: The Down Sides of Celebrities. I personally think this article is the best feature on Celebrity issue, for enlightening about the other side of glamorous celebrities live.



I hardly heard anything about Lindsay Lohan nowadays if it’s not about her being found in her car and was drunken, or having another hangover, or into the rehab all over again. I have never a fan of her and couldn’t care less about her since there is now lot of new comers who shine brighter, making her career seem even duller. But reading on her confession towards Los Angeles Confidential (which is featured in this very article) is just... sad.



“Being an actress is lonely. This industry is very lonely; I tend to get very lonely.”

I like this article for exposing the more personal perspective of a celebrity which known to be 'bad' and make us see that what she did is understandable, although not justifiable. About her confession, it was quite sad actually despite the fact that she once had had good career on Hollywood.

Rihanna confirmed this fact by stating, 


“In this business people are shallow, they are dishonest. You can’t trust them.”

Well, what do you expect? Since the industry is highly lucrative, being celebrity means that you’re going to be worth from what you look and what you do, not personalities. That’s why you can tell these celebs are actually feeling lonely, since there are only few ones who get close to them which are sincere. It may offer what the rest are craving for: fame and money (we know that majorities think that it will take those two to reach happiness and utter satisfaction in life). But in the other hand, celebrities are demanded to let their personal life be accessible as much as possible. Or in other words, it means they will have almost no privacy left for them. Not to mention disturbance from some freakish fans.

Being rich and remain unknown to the world that you are rich individual are better. Still, I think there will be a point when rich people find themselves feeling empty, realized that this is not what they are looking for in life, or ended up troubling themselves anxious about their assets (this is soooo not an ideal way of thinking of a successful yet rich business woman, I know :p). But if some ones are actually pleased living that kind of life, I think it depends on what purpose you expect your life to be.

I myself wouldn’t ask for tons of gold in my safe box or high pile of money.

Isn’t it just sufficient being loved by others and still having some relatives that do care much about us?




We are blessed enough, normal people.




quotes taken from: GoGirl! Magz
image sourceimage sourceimage source

Saturday, February 5, 2011

Happiness is...



Manusia itu makhluk penuh ambisi. Katanya, harus ambisius biar ada tujuan hidup. Harus ambisius biar sukses. Sukses? Sukses itu apa? Kamu mau sukses supaya apa? Bahagia?

Katanya, sukses itu kalau kamu punya mobil sepuluh, rumah duapuluh, istri tigapuluh (eh...)
Serba banyak pokoknya.

Jadi, kalau punya harta yang udah sampai nggak bisa dihitung, mestinya kamu bahagia. Iya, kan?
Tapi banyak kan, orang yang nggak bahagia meskipun begitu. Padahal mau ngapain aja tinggal menjentikkan tangan, langsung terlaksana. Tapi kok rambutnya malah memutih sebelum umurnya? Kok sering sakit kepala kalau malam? Kok nggak tenang amat sampai perlu dijaga bodyguard?

Saya rasa mereka kadang memijat kepalanya sambil mensugesti diri.
'Setidaknya gue punya ini dan itu. Gue lebih baik dari mereka yang nggak punya apa-apa'

Eh...siapa bilang?
Mereka mungkin lebih mengerti arti kebahagiaan dari kamu, yang mengejarnya tapi malah hilang arah.
Karena mereka nggak pusing utang sana-sini, cukup mikir apa yang harus dimakan hari ini.

Dan bayangkan orang sederhana yang hidup serba cukup, tidak lebih tidak kurang, tanpa tahu ada orang lain untuk dijadikan perbandingan. Bukankah dia orang paling bahagia di dunia?

Jadi, mau yang mana?
orang kaya yang nggak pernah puas

atau

orang sederhana tapi bahagia?

Kalau saya mah,
maunya jadi yang sederhana. Lahir di tempat terpencil, nggak pernah mengecap yang namanya kekayaan atau keserakahan manusia. Nggak tersentuh oleh media yang menampilkan gemerlap dunia (Tahu E-channel nggak? Kalau nonton itu dijamin kamu bakal mendadak merasa jadi orang paling melarat sedunia). Nggak tahu di luar sana ada orang yang punya lembaran kertas bertuliskan angka-angka yang mereka anggap berharga. Saya mah, maunya cuma punya bunga-bunga kecil yang saya sirami setiap hari, supaya mereka bisa tersenyum sama mentari pagi. Makanan? Saya bisa masak sendiri dari kebun sayuran kecil yang saya punya di belakang rumah. Saya bahagia dan nggak merasa kekurangan. Karena nggak tau di luar sana ada orang yang punya lebih, lebih banyak makanan, lebih banyak tanah dan rumah, pokoknya lebih.
Maunya.

Tapi, kamu tahu kan...

...itu terlalu utopis.

Saya sudah merasakan sedikit ini dan sedikit itu (siapa juga yang nggak?). Sedikit uang, sedikit kekuasaan, sedikit pengetahuan, sedikit nafsu, sedikit kendali. Manusia kan nggak pernah puas, sedikit saja cukup untuk membuat mereka meminta lebih, termasuk saya. Tahu di dunia ini tolak ukurnya dilihat dari apa yang kita punya. Semua mendadak komersil. Semua bisa dibeli dengan uang. Katanya itu esensi hidup. Nggak heran semuanya berlomba mengumpulkan harta, supaya mendapat sedikit tempat dan pengakuan di antara manusia yang berjejalan. Eh, saya tanpa sadar ikut terseret lomba ini. Dan nggak bisa berhenti. Karena ini mengontaminasi. Karena sama kayak makanan, kalau kamu sudah ngerasain yang lebih enak, mana puas kalau disuruh makan yang pertama kali kamu coba?
Padahal saya cuma pengin bebas. Termasuk bebas dari tuntutan harus mengejar ini dan itu.

Gimana, dong?






sincerely,


Orang yang meracau di kala hari menjelang maghrib


Thursday, January 27, 2011

A Perspective



wondering:


Is it possible
that an ant
might see human
in a way human beings
see the 'beyond-human-power'
called 'god'?


If so, is it possible
that this so-called-god
actually just another bigger
ummm
creature?


There certainly is power beyond human's
substances human would never ever think of
but how on earth
human could describe it
moreover, define it
as a figure called 'god'?


In the other hand
is it wrong
to be this skeptical?
as what religion would say as a doubt of faith,
yet I'd rather call it as another form of curiosity?




    Is it a
sin        to
          be
       th
    
       is


curious ?






...random thought that popped just right before I went to bed

Friday, January 14, 2011

it hits me right on the face


"Knowledge speaks, but wisdom listens."
- Jimi Hendrix



This is a confession.
I feel like sometimes I'm telling people, saying things to them more than they want to know.
Or sometimes ostentating
Or bragging
Just to let them know, that I know.
I try not to but I happen to do that all over again.
I know, to a certain extent it isn't nice thing to do but...
I just gain somewhat satisfaction afterwards.


And now, seeing this sentence suddenly popped out in my timeline... (I forgot who tweeted this but thanks to him)


...I feel bad. 

Might Just Around The Corner

Seberapa sering sih kalian denger berita-berita kriminal, such as penjambretan,perampokan, penculikan, pembunuhan, dll.? Pasti sering ya, apalagi kalian yg tinggal di Jakarta. Adaaa aja kejadian semacem itu tiap harinya. Nggak percaya? Coba liat koran merah macem Pos Kota, Lampu Hijau. Meskipun banyak berita yang entah benar nggaknya.

Gak tau ya kalau kalian, tapi saya sih nggak seberapa peduli. Err bukannya nggak peduli apatis gitu. tapi rasanya gara-gara saking seringnya kejadian semacem itu, kuping saya jadi semacem 'kebal' dan sayanya sendiri semacem mikir 'Jakarta ya emang gitu' dan 'Okay it happens but just to some random people and I couldn't care less'.

Sampai beberapa hari lalu

saya dapet kabar dari si pacar, temen-temen saya, yang kemudian jadi heboh di sekolah.

Ada alumnus sekolah saya, David Enggar, yang meninggal dengan cara yang sama sekali nggak wajar:
dicekik tali sepatu, 
diiket kabel USB,
dan dibuang ke kali di Karawang.

(Ini artikelnya: bataviase.co.id.)

Sebelum dibunuh, dia sempet pergi ke apotek deket rumahnya. Di depan apotek itulah dia diculik dan kemudian dibunuh.

Kita udah pada heboh gara-gara yang meninggal ini alumnus, walau saya nggak kenal dan nggak pernah liat mukanya karena umurnya jauh bertahun-tahun di atas saya.

Lebih heboh lagi pas tau kejadian ini ternyata di daerah SUNTER.
Kenapa? Karena sekolah saya ini letaknya di daerah Sunter (ya eyalah namanya juga IPEKA Sunter),
jadi kita kayak semacem
'ya ampun, deket-deket sini dong kejadiannya?!'
Dan lagi, Sunter ini daerah yang termasuk aman. Bukan pusat kota macem Mangga Besar gitu.

Tambah heboh lagi pas tau dia pergi ke apotek itu naik mobil. NAIK MOBIL.
Eh... mana kepikiran sih bisa-bisanya orang naik mobil itu diculik? Ya kan?

Guru saya nambahin lagi, katanya kejadian ini nggak malem-malem amat,
sekitar jam 7an, bukan tengah malem atau dini hari.

Kesimpulan dalam tiga kata: Sungguh. Tidak. Terduga.

Masih belum pulih dari shock, saya jadi keinget kejadian yang saya alami sendiri beberapa waktu lalu.





*  *  *




Hari itu hari Kamis. Seperti biasa, saya latihan debat sampai sore jauh melewati jam bubar sekolah. Jujur sebenarnya saya sedikit malas, bukan karena latihannya itu sendiri, tapi karena saya sering bingung mau pulang naik apa. Kadang mobil antar-jemput masih ada sampai sore, dan saya bisa pulang naik itu. Kalau tidak yah... saya harus cari transportasi lain.


Hari itu saya kurang beruntung. Supirnya pada kuya ato entah apalah jadi ya saya ditinggal.


Saya SMS papa, minta jemput. Dia bilang baru bisa jemput sekitar jam 6an. Saya liat jam, baru jam 4. Ealah lama banget dah gua mana sabar.


Saya duduk-duduk di warung depan sekolah sambil mikir 'pulang naik apa ya...'. Kebetulan saya lagi laper berat. Makin lama saya duduk makin saya pengin teriak ke ibu warung 'Bu! Indomi satu dong!'
Tiba-tiba aja ada random thoughts.
Daripada gua duduk di sini menggendutkan diri makan indomi mending gua sekalian pulang jalan kaki bakar lemak ngencengin paha. Ha! Sekali dayung tiga pulau terlampaui.

Entah kenapa pas itu saya merasa ide itu sangat brilian. Belakangan saya baru tahu ternyata nggak.


Saya membulatkan tekad dan melangkah pulang. Jarak jalan kakinya lumayan jauh dari Sunter-Kelapa Gading. Mungkin sekitar 5 km ada kali ya *padahal 1 km aja nggak tau seberapa jauh


Sepanjang jalan saya nggak merasa ada yang aneh. Cuma...capek sih. Berdebu pula jalanan itu gara-gara kendaraan yang lewat.


Setelah sekitar 3/4 jarak sekolah-rumah saya tempuh,  tiba-tiba ada taxi berhenti di depan saya. Bukan Blue Bird, tapi warnanya biru. Saya lupa taxi apa, Sepakat ya kalau nggak salah. Lalu si supir keluar dari bangku kemudi. Rambutnya sudah memutih, mungkin umurnya sekitar 50an.


     'Dek, rumahnya di mana?'


Apa pula ini Bapak nanya-nanya rumah gua?


     'err di Kelapa Gading, Pak...'


     'wah searah loh. Sekalian sama saya aja, Dek?'


     'nnng nggakk usah, Pak, nggak papa makasih yaa'


     'beneran nggak papa, Dek, ikut saya aja. Gratis. Kasian kamu'


Entah tersihir kata 'gratis' atau raut muka si bapak yang ramah itu, ditambah lagi saya memang sudah capek jalan kaki, saya masuk ke taxi.


*pressing fast forward button*


Dan saya pun sampai di rumah dengan selamat.






*  *  *




Kalau David Enggar tadi pergi naik mobil,
saya pulang cuma jalan kaki, pake seragam sekolah pula.


Dia anak kuliahan, saya anak SMA.


Dia laki-laki, saya perempuan.


oke udah mulai nggak jelas


DUH
poin saya adalahhhhhh
Kurang empuk apalagi saya buat diculik dan semacemnya itu??


Cewek SMA jalan sendirian di jalan raya pula. Kalau ada mobil yang berhenti terus saya dipaksa masuk ke mobil itu juga nggak bakal ada yang liat kali. Jalan raya gituloh, bukan depan apotek.


Dan lagi, saya bisa-bisanya masuk ke taxi yang mengiming-imingi jasa gratis.
Padahal saya sepantesnya curiga.
Dan sangat tidak dianjurkan serta luar biasa bodoh untuk menerima tawaran dari orang asing.
Tapi saya terima.
Eh ya gusti...
Selebornya minta ampun.
Pas saya cerita ke temen saya, dia bilang 'lu udah kayak dihipnotis tau ga bisa sampe mau masuk gitu'
Yeah right.


Kalau dipikir-pikir saya bisa se'polos' itu buat jalan kaki pulang ke rumah dan masuk ke taxi yang ditawarin mungkin karena saya waktu itu sama sekali nggak punya prasangka bakal ada terjadi apa-apa sama saya.
Saya masih berpikir daerah sekitar ini aman. Iya, saya tau ada banyak kejadian kriminal, but it happens to random people. Nggak kepikiran ada kemungkinan itu pun bisa menimpa saya.


Apparently not.


Pas denger tentang David ini dan keinget hal bodoh yang saya lakukan waktu itu, rasanya merinding.


Kalau dibilang kematian itu bisa dihindari dengan hati-hati, nggak juga deh kayanya.
Buktinya jelas saya jauh lebih ceroboh dari David ini.


Maybe, after all, it comes back to something we know as 'fate'.


Kita jarang sekali berpikir tentang kematian.
'Gua masih muda kok, idup masih panjang'


Kita berencana ini itu buat beberapa jam ke depan, beberapa hari ke depan, beberapa minggu ke depan, beberapa bulan atau bahkan tahun yang akan datang.


Tanpa berpikir sedikit pun akan kemungkinan mungkin kita nggak akan hidup selama itu.
Mungkin saya nggak bisa buka mata lagi besok.
Mungkin ini postingan terakhir saya.
Sangat sedikit mereka yang bisa dibilang siap menerima kematian itu kapan aja.


Saya bukannya mau nakut-nakutin supaya kalian parno akan adanya Grim Reaper di setiap tempat,
tapi entah kenapa saya merasa setiap kali ada orang yang meninggal, saya semacem diingatkan.
Manusia nggak se-almighty itu ya. Mereka yang hari ini manusia paling 'wah' besoknya bisa jadi tinggal badan tanpa nyawa. Mereka yang sombong akan berbagai macam hal besoknya bisa tinggal tulang belulang. Kalah oleh hal yang sering diabaikan manusia: kematian.
Apalagi kalau yang meninggal itu orang-orang terdekat.
Kadang kita bertanya-tanya, 'oh dia! kenapa harus mati sekarang?'
'kenapa harus dia?'
'kenapa.. kenapa..'


Maybe, just maybe, some deaths were indeed intended to be


like to remind us


of death


that might be lurking just around the corner




"Memento Mori"



Monday, January 3, 2011

gahhhh bad, bad habit

staying up this late everynight


I've been harsh to myself


I could've died young

Thursday, December 2, 2010

this IPA-IPS thingy...

Hai ini saya, ngepost lagi. Rajin kan?
Dibilangin, saya mau ngejar setoran.


Ada kejadian di sekolah beberapa hari lalu. Teman saya nggak sengaja denger obrolan anak kelas X pas dia lagi ada di dalam salah satu bilik WC.

Dia balik ke kelas dalam keadaan sewot, terus langsung nyamperin saya dan teman-teman saya yang lain, ngadu.

"Eh, eh, tau nggak...," dia mulai dengan tagline khas gosip, "si A en temen-temennya nyebelin banget..."

"Ha kenapa?"

"Tadi gue kan lagi di WC, terus gue kedengeran mereka ngomong apa..."

"Emang mereka ngomong apaan?"

"Mereka ngomongin gitu... ngata-ngatain anak IPS.
katanya, anak-anak IPS itu bego semua..."

Hening.

"...yang juara-juara di IPS juga sama aja, bego juga. Gitu, mereka bilang..."

Mengheningkan cipta.

Untuk sesaat.

Sesaat berikutnya, berondongan pembelaan terlontar.


*   *   *


Sakit hati? Nggak. Eh...dikit sih ada. Bohong kalau bilang nggak. Tapi nggak sampai kesel, benci, apalagi mendendam.

Malahan, saya malah cenderung kasian, dan geli.
Lebih ke arah geli sih sebenarnya.

Masih ada ya, orang yang pikirannya sekolot itu?
Terus saya bingung, kok bisa ya sejak awal ada muncul stigma semacam itu?
Bahwa anak IPA lebih pintar dari anak IPS?
Bahwa anak-anak IPS itu terkesan 'buangan'?

IPA dan IPS ini bagi saya cuma sekedar peminatan, dan nggak ada hubungannya sama kepintaran. Sudah jelaslah dari judulnya: Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Alam dan Sosial. Ini cuma masalah pembagian bidang saja. Lalu sejak kapan dan mengapa bidang eksakta dikategorikan 'lebih sulit'?

Emangnya kalian pikir nggak butuh logika buat merancang penelitian sosial?
Emangnya kalian pikir ngerancang penelitian sosial itu susahnya nggak sebanding sama kalian bikin laporan laboratorium?!
Emangnya mempelajari natur dan sifat manusia itu jauh lebih gampang dari mempelajari organ tubuh mereka?!
Emangnya......?!

Duh, jadi curhat.

Ehem.

Lalu ada lagi stigma:
anak IPA identik dengan 'hitungan', anak IPS dengan 'hafalan'
Saya nggak mempermasalahkan stigma itu, sih

Tapi ada yang aneh.
Kalau anak kelas X mau milih penjurusan IPS, karena dia emang minatnya masuk IPS dan kebetulan nilai IPAnya nggak terlalu bagus, nanti pasti muncul omongan,
"Oooo dia nggak sanggup masuk IPA, hitungannya bego."

Sedangkan, kalau ada anak yang milih penjurusan IPA, karena dia emang minatnya masuk IPA dan kebetulan nilai IPSnya kurang bagus, nggak ada tuh yang notice nilai IPS dia yang jelek itu.
Nggak ada tuh yang ngomong, "Oooh dia nggak sanggup masuk IPS, wajar aja pilih IPA."

Eh nggak ya, saya bukannya ngiri! Tapi aneh aja nggak sih? Dari situ aja udah keliatan betapa nggak seimbangnya pandangan orang tentang dua jurusan itu.

Terus, yang paling anehnya lagi...
Anak yang milih penjurusan IPS karena emang minatnya IPS, tapi nilai IPAnya juga bagus, bakal 'dipaksa' masuk IPA.

"Kamu mestinya bersyukur, jangan sia-siain... Sayang loh, temen-temen kamu banyak yg mau masuk IPA tapi nggak cukup nilainya."

Eh ya apa hubungannya? Namanya juga peminatan... Kalau anak itu emang nggak berminat, masa mau dipaksa?

Saya nggak tau sih kalau di sekolah lain. Tapi itulah yang saya lihat di sekolah saya, mereka 'dihasut' untuk masuk IPA.

Maaf terlalu banyak kalimat tanya di postingan kali ini... tapi saya dalam hal ini sedang bingung, benar-benar bingung. Asal muasal munculnya cap untuk IPA-IPS ini darimana? Masalahnya, nggak ada orang yang benar-benar menjalani kedua-duanya (IPA dan IPS) sehingga cukup objektif untuk membandingkan. Kalau bisa, saya mau deh. Tapi masalahnya waktu naik ke kelas XI, disuruh milih, sih...

Sekian jeritan kebingungan saya.
Tidak bermaksud mengkritik,
apalagi sok-sok mendidik,
sukur-sukur bisa menggelitik.