Saturday, May 7, 2011
Unimportance
Peringatan: ini postingan yang sedikit tidak penting.
Saya ngalamin kejadian yang cukup random hari ini: kekunci di toilet.
Toilet rumah saya, untungnya.
Saya bilang cukup random karena selama ini pintu WC saya nggak pernah bermasalah. Entah ada angin apa tiba-tiba kenop pintunya macet. Pertamanya saya panik, gedor-gedor pintunya walopun jelas nggak bakal ngefek. Terus saya coba congkel-congkel engsel pintu yang nyangkut itu. Yah... kali-kali aja kebuka kan?
Si dede coba-coba nolong, ngedobrak pintunya dari luar.
Eh bukannya sukses bikin pintunya kebuka, malah sukses bikin lampu WC saya MATI.
MATIK. Sukses bikin saya jantungan seketika.
Kok bisa ya? Mungkin dobrakannya terlalu heboh sampe bikin lampu WC putus. Apa hubungannya coba? Er.. nggak tau deh.
Jadi situasi saya naek pangkat: kekunci di toilet yang gelap gulita. Eng ing eng.
Kalo saya masih balita kecil lucu mungkin saya bakalan jadi claustrophobic abis kejadian ini.
Alhasil, saya malah duduk-duduk di atas kloset sambil nungguin abang tukang ngotak-ngatik kenop pintu, yang ternyata makan waktu cukup lama. Saya jadi... bosen. Pikiran saya jadi ngelantur kemana-mana.
Saya merasa adegan ini semacem adegan di film-film. Terperangkap di ruang gelap, sempit, dengan suara gedoran berulang-ulang di pintu, ini bisa jadi potongan cerita dari genre... apa aja.
Bisa jadi genre horor kalau bulu kuduk saya mendadak merinding, sudut mata saya menangkap bayangan yang bergerak di pojokan, dan telinga saya mendengar suara-suara yang nggak seharusnya ada. Lebih epic lagi kalau saya mulai berasa dicakar-cakar.
Bisa jadi genre thriller kalau yang lagi gedor-gedor pintu saya itu pembunuh bertopeng ini.
Bisa jadi genre fantasi kalau ini semacem adegan di Narnia, di mana saya jadi Lucy Pevensie yang lagi maen petak umpet, berusaha ngumpet di kloset dan nge-flush diri sendiri tapi ternyata malah sampe di dunia antah berantah. Tapi plis... pintu masuknya lobang WC, nggak keren banget.
Bisa jadi genre romantis kalau saya ini penjelmaan Sleeping Beauty dan abang teknisi di balik pintu adalah pangeran berkuda putih...
Yak. Bahkan lamunan saya pun mulai jadi super random dan... agak-agak freak gitu ya HAHA
Setelah hampir 1 jam, atau malah lebih, akhirnya terdengar bunyi 'ceklik' yang melegakan dan pintu pun terbuka. Lamunan ngaco saya buyar, saya ngelangkah keluar. Belakangan saya baru inget, saya lupa bilang terima kasih sama si abang teknisi, dan sampe sekarang saya masih nggak enak hati.
Saya sadar ini tulisan yang super nggak berbobot, pointless, dan nggak lebih dari curhatan ABG labil.
Mungkin ini salah satu postingan yang beberapa waktu ke depan bakal saya ketawain, "Hah? Ngapain dulu gue nulis kayak gini?"
Tapi saya udah lama nggak nulis sesuatu. Well, sebenernya udah nulis dari kemaren-maren tapi semuanya berakhir jadi sekedar draft. Jadi mumpung ada tulisan saya yang kelar, saya share aja.
Dan walopun nggak berbobot, tapi entah kenapa will saya buat nulis ini tergolong cukup 'niat'. Jadi yasudahlah.
Sekian.
image source: wearemoviegeeks.com
Sunday, April 24, 2011
365 days
It's 24th. of April. Year 2011.
Most of people would associate today with Sunday.
Christians would associate it with Easter.
But not us.
For us, this is not just another plain Sunday to get lazy on,
nor just another Easter to celebrate on.
It's supposed to be the day we reminisce that
A year ago on this exact date, we acknowledged each others' feelings
without emitting unnecessary words
because by looking into your eyes I simply understood
that the gasps between my fingers were about to be filled
that the vacant space in my heart were about to be occupied
with, no other than, your presence.
I wouldn't realize that 365 days were passed already
I didn't feel like counting those days
They say, time will surely passes in a blink of an eye
if we're doing something we fond of
True, I've never feel burdened to walk this road with your companion
I had never known before that one's day could be brighten up by a single smile of certain people
Yet, you prove it could.
Most of people would associate today with Sunday.
Christians would associate it with Easter.
But not us.
For us, this is not just another plain Sunday to get lazy on,
nor just another Easter to celebrate on.
It's supposed to be the day we reminisce that
A year ago on this exact date, we acknowledged each others' feelings
without emitting unnecessary words
because by looking into your eyes I simply understood
that the gasps between my fingers were about to be filled
that the vacant space in my heart were about to be occupied
with, no other than, your presence.
I wouldn't realize that 365 days were passed already
I didn't feel like counting those days
They say, time will surely passes in a blink of an eye
if we're doing something we fond of
True, I've never feel burdened to walk this road with your companion
I had never known before that one's day could be brighten up by a single smile of certain people
Yet, you prove it could.
I had never known before whether one could hold a feeling this massive
Yet, you prove it right.
Without intention of making this a prolix way of expressing my gratitude,
let me say this:
for making me feel warm,
for making me feel warm,
for being there when there's no one to stay,
for making me taking chances I hardly take,
for willing to stay with me this far,
Thank you.
They say, nothing is forever.
But I sincerely hope,
with full consciousness of letting myself being too much naive,
we could stay this way
forever.
Friday, April 22, 2011
Freedom, at last
Resmi sudah sebulan saya nggak nge-blog. Tolong dimengerti ini bukan karena saya males atau ingkar janji, tapi karena saya nggak punya waktu. #alesan
Eh tapi sumpah ini bukan #alesan. Sekitar sebulan terakhir perhatian saya tersita buat hal yang bikin semua anak kelas 12 cape fisik dan mental: UJIAN NASIONAL
jreng jreng
Padahal UN-nya sendiri cuma 4 hari, tapi persiapannya itu ajubileeee.
Sebulan terakhir kami digenjot soal-soal latihan, ditakut-takuti anceman nggak lulus, digoda oleh tawaran buat beli soal, dll dll pokoknya hectic banget sampai saya mikir, dulu pas UN SMP rasanya nggak seheboh ini deh. Bener.
Tapi kini...
Ijinkan saya jungkir balik, salto, roll depan, dan kayang sampe patah tulang karena akhirnya
UN SUDAH SELESAI.
YEAH.
*jungkir balik, salto, roll depan, dan kayang sampe patah tulang*
well, resminya kemaren sih.
Readers, you probably don't really know how much I've been wanting for this day to come. No, not wanting. More like craving.
Craving for the day I left my senior high-school life right behind.
Saya sudah bosan, boleh dibilang jenuh, dengan masa SMA.
Saya bosan dengan lingkungan yang itu-itu aja. Saya bosan dengan fase yang sepertinya stagnan. Saya bosan dengan tempat di mana saya tidak bisa berkembang. Pokoknya bosan.
Katanya, masa SMA itu masa-masa paling indah dan tak terlupakan. Nggak bilang itu salah, karena pas SMA itu emang banyak kejadian lucu, rame, pertemanan yang katanya unyu, bla bla bla.
Memorable, sih.
Tapi entah kenapa saya nggak ngalamin yang semacem "aduh rasanya sayang ya, nggak pengen lulus deh", which I thought I would (based on people's confessions upon this high school thingy). Saya jelas-jelas pengen cepat-cepat lulus.
Saya sempet cerita ke beberapa orang tentang ini. Some say I would kinda regret it and gonna miss it later. But I don't see that coming, somehow. I definitely want to move forward.
Anyhow... I am fully excited about the upcoming holiday.
Liburan kali ini panjang banget memang, sekitar 4-5 bulan sampe sebelum masuk kuliah.
Tapi saya punya banyak rencana buat liburan ini. Hal teratas dalam daftar saya: habisin literatur yang masih menggunung. Ya, sebagian besar buku dari daftar holiday plan saya yang lalu masih belum saya sentuh.
Bagi saya, hedon itu laper mata dan belanja buku-buku yang belum tentu sempet saya baca. Jadi, yah gini deh jadinya. Saya pengin selesain semua buku itu dengan satu motivasi: supaya bisa beli lebih banyak buku lagi.
Sincerely hoping that I wouldn't get bored sometime later in this 5-months-length holiday.
Terakhir, selamat Hari Bumi
dan selamat Jumat Agung bagi yang merayakan! :)
Eh tapi sumpah ini bukan #alesan. Sekitar sebulan terakhir perhatian saya tersita buat hal yang bikin semua anak kelas 12 cape fisik dan mental: UJIAN NASIONAL
jreng jreng
Padahal UN-nya sendiri cuma 4 hari, tapi persiapannya itu ajubileeee.
Sebulan terakhir kami digenjot soal-soal latihan, ditakut-takuti anceman nggak lulus, digoda oleh tawaran buat beli soal, dll dll pokoknya hectic banget sampai saya mikir, dulu pas UN SMP rasanya nggak seheboh ini deh. Bener.
Tapi kini...
Ijinkan saya jungkir balik, salto, roll depan, dan kayang sampe patah tulang karena akhirnya
UN SUDAH SELESAI.
YEAH.
*jungkir balik, salto, roll depan, dan kayang sampe patah tulang*
well, resminya kemaren sih.
Readers, you probably don't really know how much I've been wanting for this day to come. No, not wanting. More like craving.
Craving for the day I left my senior high-school life right behind.
Saya sudah bosan, boleh dibilang jenuh, dengan masa SMA.
Saya bosan dengan lingkungan yang itu-itu aja. Saya bosan dengan fase yang sepertinya stagnan. Saya bosan dengan tempat di mana saya tidak bisa berkembang. Pokoknya bosan.
Katanya, masa SMA itu masa-masa paling indah dan tak terlupakan. Nggak bilang itu salah, karena pas SMA itu emang banyak kejadian lucu, rame, pertemanan yang katanya unyu, bla bla bla.
Memorable, sih.
Tapi entah kenapa saya nggak ngalamin yang semacem "aduh rasanya sayang ya, nggak pengen lulus deh", which I thought I would (based on people's confessions upon this high school thingy). Saya jelas-jelas pengen cepat-cepat lulus.
Saya sempet cerita ke beberapa orang tentang ini. Some say I would kinda regret it and gonna miss it later. But I don't see that coming, somehow. I definitely want to move forward.
Anyhow... I am fully excited about the upcoming holiday.
Liburan kali ini panjang banget memang, sekitar 4-5 bulan sampe sebelum masuk kuliah.
Tapi saya punya banyak rencana buat liburan ini. Hal teratas dalam daftar saya: habisin literatur yang masih menggunung. Ya, sebagian besar buku dari daftar holiday plan saya yang lalu masih belum saya sentuh.
Bagi saya, hedon itu laper mata dan belanja buku-buku yang belum tentu sempet saya baca. Jadi, yah gini deh jadinya. Saya pengin selesain semua buku itu dengan satu motivasi: supaya bisa beli lebih banyak buku lagi.
Sincerely hoping that I wouldn't get bored sometime later in this 5-months-length holiday.
Terakhir, selamat Hari Bumi
dan selamat Jumat Agung bagi yang merayakan! :)
Sunday, March 27, 2011
What it takes to be governor
Bagi kalian yang aktif berkicau di Twitter,
saya yakin berita tentang Roy Suryo nggak asing sama sekali di telinga kalian. Bahkan kalau kalian cuma denger selentingan.
Apa?
Belum pernah denger?
Gini, gini.
Jadi, pagi kemaren, 26 Maret 2011, timeline Twitter saya dibanjiri topik 'insiden Roy Suryo diusir'
Bikin ulah apalagi ini si Roy Suryo...
Penasaran, saya buka timeline @ernestprakasa, orang yang disebut-sebut berkaitan sama insiden ini.
Kurang lebih kronologisnya kayak gini:
Ernest Prakarsa (@ernestprakarsa) dan seorang temannya berencana naik flight pukul 6.15 dengan tujuan Yogyakarta. Pas sampe di seat yang mereka pesan, seat itu udah keisi... oleh Roy Suryo dan istrinya.
Usut punya usut, rupanya Roy Suryo salah naik flight karena di tiketnya tertulis pukul 7.45, bukan 6.15.
Tapi Roy Suryo tetep kekeuh nggak mau turun.
A gentleman supposed to be on 7 am flight insist to get on 6 am flight. Holding the whole plane... saying, 'Kamu tahu siapa saya?'
Kemudian terjadi semacam konflik, yang mengakibatkan pesawat ini nggak berangkat tepat waktu.
Disebutkan juga, sang pilot yang bernama Capt. Vino sempat emosi karena Roy Suryo begitu keras kepala, sehingga ia mengumpat, 'PEJABAT EMANG ANJ**G!'
Akhirnya, setelah di'nasihati' 2 orang petugas bandar, akhirnya Roy Suryo turun juga.
Begitu lihat berita ini, saya langsung cenderung nyalahin Roy Suryo. Saya mikir, ya itu emang salahnya kenapa bisa sampe salah liat jadwal tiket sendiri. Dan sepertinya segenap warga Twitter pun mikir begitu, karena timeline saya jadi dipenuhi cacian buat Roy Suryo.
Lalu seperti biasa, nggak berapa lama langsung muncul berita 'resmi' alias 'klarifikasi' cerita yang menyudutkan Roy Suryo itu ( http://www.detiknews.com/read/2011/03/26/160204/1601919/10/lion-air-roy-suryo-salah-naik-pesawat dan http://m.kompas.com/news/read/data/2011.03.26.12164630)
Ada kontroversi tentang ke-valid-an cerita versi Ernest. Menurut berita versi koran, Capt. Vino sama sekali nggak pernah melakukan adegan super epic itu (ya, yang anjing-anjingan). Apalagi Kompas, jelas-jelas nunjukkin keberpihakan ke Roy Suryo.
Berhubung nggak ada di tempat kejadiannya langsung, kita nggak bisa tau dengan pasti versi mana yang bener.
Bukannya subjektif, tapi kalau dinalar... emang apa untungnya buat Ernest kalau dia melebih-lebihkan kejadian yang sebenernya? Cari sensasi? Hampir nggak ada motif yang mendukung kemungkinan palsunya cerita versi Ernest.
Sedangkan kalau cerita versi Roy Suryo... jelaslah kalau itu untuk bersihin namanya. Yah, siapa yang nggak bakal malu kalau 'dianjing-anjing'-in? :)
Kalau sampe ternyata versi Ernest lah yang bener, maka berarti pers bisa dibilang menjadi semacam 'alat' buat menutupi kesalahan pejabat. Padahal, justru pers mestinya jadi penerangan buat rakyat.
Kalau sampe ternyata versi Ernest lah yang bener, maka berarti pers bisa dibilang menjadi semacam 'alat' buat menutupi kesalahan pejabat. Padahal, justru pers mestinya jadi penerangan buat rakyat.
Masih berkaitan, Roy Suryo juga bilang lewat berita versi pers itu bahwa sebenernya kejadian itu kesalahan Lion Air karena membiarkan dia check-in padahal jadwalnya salah.
Well... ada benernya sih. *menciut*
Saya baru sadar betapa susahnya pertahanin objektivitas buat menilai isi berita atau ngelaporin sesuatu... Karena jujur aja, saya emang dari awalnya nggak suka sama Roy Suryo ini.
TAPI!
Lagi-lagi, bukannya subjektif (semoga), tapi saya tetep mikir kalau dalam hal ini bukan cuma Lion Air yang pantes disalahin. Roy Suryo juga.
Kenapa? Karena pas dia liat tiketnya itu untuk penerbangan 7.45 dan bukan 6.15, seharusnya dia bisa langsung turun buat mencegah keributan. Tapi bukannya turun, dia malah sempet ngotot beberapa saat sampe harus ditangani petugas dulu. Dan yang paling bikin saya geli, di Twitter maupun di koran, dia berulang kali bilang bahwa dia yang mengalah. MENGALAH. Iya, dia nekenin kata 'mengalah'.
Please...
Saya baru sadar, jadi pejabat itu ternyata nggak cukup cuma modal 'suap',
tapi juga muka tebal,
kuping kebal,
dan otak bebal.
caption and image taken from: Jonny Herjawan's
p.s.: bahkan penumpang selain Ernest (Jonny Herjawan) merasa terganggu. Kalau begini, Ernest yang melebih-lebihkan atau Roy Suryo yang terlalu gengsi buat ngaku? Monggo dinilai sendiri :)
p.s.: bahkan penumpang selain Ernest (Jonny Herjawan) merasa terganggu. Kalau begini, Ernest yang melebih-lebihkan atau Roy Suryo yang terlalu gengsi buat ngaku? Monggo dinilai sendiri :)
Monday, February 14, 2011
to thank that we are mediocre
This post was actually somewhat related to my previous post.
Two days ago I was reading GoGirl! Magazine’s 6th anniversary edition.
Most of the readers praised this ‘Celebrities and Trends’ themed edition for its thickness, its excessive amount of fashion spread, cute tumbler that was bundled along as a bonus (it was reaaaally cute). It takes some time for me to get to this article: The Down Sides of Celebrities. I personally think this article is the best feature on Celebrity issue, for enlightening about the other side of glamorous celebrities live.
Two days ago I was reading GoGirl! Magazine’s 6th anniversary edition.
Most of the readers praised this ‘Celebrities and Trends’ themed edition for its thickness, its excessive amount of fashion spread, cute tumbler that was bundled along as a bonus (it was reaaaally cute). It takes some time for me to get to this article: The Down Sides of Celebrities. I personally think this article is the best feature on Celebrity issue, for enlightening about the other side of glamorous celebrities live.
I hardly heard anything about Lindsay Lohan nowadays if it’s not about her being found in her car and was drunken, or having another hangover, or into the rehab all over again. I have never a fan of her and couldn’t care less about her since there is now lot of new comers who shine brighter, making her career seem even duller. But reading on her confession towards Los Angeles Confidential (which is featured in this very article) is just... sad.
“Being an actress is lonely. This industry is very lonely; I tend to get very lonely.”
I like this article for exposing the more personal perspective of a celebrity which known to be 'bad' and make us see that what she did is understandable, although not justifiable. About her confession, it was quite sad actually despite the fact that she once had had good career on Hollywood.
Rihanna confirmed this fact by stating,
“In this business people are shallow, they are dishonest. You can’t trust them.”
Well, what do you expect? Since the industry is highly lucrative, being celebrity means that you’re going to be worth from what you look and what you do, not personalities. That’s why you can tell these celebs are actually feeling lonely, since there are only few ones who get close to them which are sincere. It may offer what the rest are craving for: fame and money (we know that majorities think that it will take those two to reach happiness and utter satisfaction in life). But in the other hand, celebrities are demanded to let their personal life be accessible as much as possible. Or in other words, it means they will have almost no privacy left for them. Not to mention disturbance from some freakish fans.
Being rich and remain unknown to the world that you are rich individual are better. Still, I think there will be a point when rich people find themselves feeling empty, realized that this is not what they are looking for in life, or ended up troubling themselves anxious about their assets (this is soooo not an ideal way of thinking of a successful yet rich business woman, I know :p). But if some ones are actually pleased living that kind of life, I think it depends on what purpose you expect your life to be.
I myself wouldn’t ask for tons of gold in my safe box or high pile of money.
Isn’t it just sufficient being loved by others and still having some relatives that do care much about us?
We are blessed enough, normal people.
quotes taken from: GoGirl! Magz
image sourceimage sourceimage source
Being rich and remain unknown to the world that you are rich individual are better. Still, I think there will be a point when rich people find themselves feeling empty, realized that this is not what they are looking for in life, or ended up troubling themselves anxious about their assets (this is soooo not an ideal way of thinking of a successful yet rich business woman, I know :p). But if some ones are actually pleased living that kind of life, I think it depends on what purpose you expect your life to be.
I myself wouldn’t ask for tons of gold in my safe box or high pile of money.
Isn’t it just sufficient being loved by others and still having some relatives that do care much about us?
We are blessed enough, normal people.
quotes taken from: GoGirl! Magz
image sourceimage sourceimage source
Saturday, February 5, 2011
Happiness is...
Manusia itu makhluk penuh ambisi. Katanya, harus ambisius biar ada tujuan hidup. Harus ambisius biar sukses. Sukses? Sukses itu apa? Kamu mau sukses supaya apa? Bahagia?
Katanya, sukses itu kalau kamu punya mobil sepuluh, rumah duapuluh, istri tigapuluh (eh...)
Serba banyak pokoknya.
Jadi, kalau punya harta yang udah sampai nggak bisa dihitung, mestinya kamu bahagia. Iya, kan?
Tapi banyak kan, orang yang nggak bahagia meskipun begitu. Padahal mau ngapain aja tinggal menjentikkan tangan, langsung terlaksana. Tapi kok rambutnya malah memutih sebelum umurnya? Kok sering sakit kepala kalau malam? Kok nggak tenang amat sampai perlu dijaga bodyguard?
Saya rasa mereka kadang memijat kepalanya sambil mensugesti diri.
'Setidaknya gue punya ini dan itu. Gue lebih baik dari mereka yang nggak punya apa-apa'
Eh...siapa bilang?
Mereka mungkin lebih mengerti arti kebahagiaan dari kamu, yang mengejarnya tapi malah hilang arah.
Karena mereka nggak pusing utang sana-sini, cukup mikir apa yang harus dimakan hari ini.
Dan bayangkan orang sederhana yang hidup serba cukup, tidak lebih tidak kurang, tanpa tahu ada orang lain untuk dijadikan perbandingan. Bukankah dia orang paling bahagia di dunia?
Jadi, mau yang mana?
orang kaya yang nggak pernah puas
atau
orang sederhana tapi bahagia?
Kalau saya mah,
maunya jadi yang sederhana. Lahir di tempat terpencil, nggak pernah mengecap yang namanya kekayaan atau keserakahan manusia. Nggak tersentuh oleh media yang menampilkan gemerlap dunia (Tahu E-channel nggak? Kalau nonton itu dijamin kamu bakal mendadak merasa jadi orang paling melarat sedunia). Nggak tahu di luar sana ada orang yang punya lembaran kertas bertuliskan angka-angka yang mereka anggap berharga. Saya mah, maunya cuma punya bunga-bunga kecil yang saya sirami setiap hari, supaya mereka bisa tersenyum sama mentari pagi. Makanan? Saya bisa masak sendiri dari kebun sayuran kecil yang saya punya di belakang rumah. Saya bahagia dan nggak merasa kekurangan. Karena nggak tau di luar sana ada orang yang punya lebih, lebih banyak makanan, lebih banyak tanah dan rumah, pokoknya lebih.
Maunya.
Tapi, kamu tahu kan...
...itu terlalu utopis.
Saya sudah merasakan sedikit ini dan sedikit itu (siapa juga yang nggak?). Sedikit uang, sedikit kekuasaan, sedikit pengetahuan, sedikit nafsu, sedikit kendali. Manusia kan nggak pernah puas, sedikit saja cukup untuk membuat mereka meminta lebih, termasuk saya. Tahu di dunia ini tolak ukurnya dilihat dari apa yang kita punya. Semua mendadak komersil. Semua bisa dibeli dengan uang. Katanya itu esensi hidup. Nggak heran semuanya berlomba mengumpulkan harta, supaya mendapat sedikit tempat dan pengakuan di antara manusia yang berjejalan. Eh, saya tanpa sadar ikut terseret lomba ini. Dan nggak bisa berhenti. Karena ini mengontaminasi. Karena sama kayak makanan, kalau kamu sudah ngerasain yang lebih enak, mana puas kalau disuruh makan yang pertama kali kamu coba?
Padahal saya cuma pengin bebas. Termasuk bebas dari tuntutan harus mengejar ini dan itu.
Gimana, dong?
sincerely,
Le Petit Prince
...or widely known as 'The Little Prince'.
Written by Antoine de Saint-Exupery, this book was originally published in French and is often used as beginner book's for French language student.
It's been recited in my previous post that I'm gonna write a review about this novella.
So here I am, fulfilling my promise.
This isn't my first attempt of reading this book, actually.
I've read it some time ago, and by the moment I finished reading it, I wasn't quite impressed by any features of this book.
I don't know whether it's because the translated version (Indonesian) I've been reading or I was too little to understand.
too little to understand.
Ha! We often think that we, adults, are waaay more in the upperhand of children, don't we?
Thus, this book somewhat altered my perspective.
The very first chapter of this book describes about how the character 'I' (narrator's point of view) who ever drawn this object when he was a little boy: an elephant which was being digested by a boa constrictor.
But, adults recognized that drawing as a hat (I do personally think that it would indeed looked like a hat, if you miss the small dot that meant to be the eye of the boa constrictor).
Then The Little Prince met the narrator, and in instance he recognized the drawing as what the narrator intended it to be.
That scene settles of what perspective this tale would be told: children's mind,
for there's a theory that says: a child's drawing may looks abstract (to adults) but children can recognize each others' drawing.
The Little Prince himself was described as a little boy who travelled along from one planet to another until he finally arrived on Earth. Each planet was inhabited by individuals which represents adults in their various ridiculous characters. They were: The King, The Conceited Man, The Businessman, The Drunkard, The Lamplighter, and The Geographer.
![]() |
| The King |
![]() |
| The Businessman |
![]() |
| The Drunkard |
![]() |
| The Lamplighter |
![]() |
| The Geographer |
Those individuals, which told in the tenth chapter until the fifteenth, picture the characters of adults in extreme way of personification. For example, The Conceited Man who had been excessively proud of himself, craving for praise, and can't hear anything which is not considered as a form of adoration.
This actually satirize people who profoundly obsessed with respect.
![]() |
| The Conceited Man |
True, but at some point these people might try to find any way, as well as doing bad deeds, in order just to receive higher status for the sake of praise.
Adults are like that.
But The Little Prince, with the innocence of a child, respond to this,
"...why should that mean so much to you anyway?"
I'm not gonna write any further about the other characters :)
The rest of the chapters told about The Little Prince's days of wandering on Earth. Each events represents things in life which being elaborated beautifully in words by Saint-Exupery.
![]() |
| The Little Prince and his rose |
Like, the relationship between The Little Prince and The Fox, also between The Little Prince and his flower, teaches about love among two lovers, or could be friends. From The Fox, The Little Prince learnt how to love his rose, his only remarkable rose among the entire universe.
'Men have forgotten this basic truth,' said the fox. 'But you must not forget it. For what you have tamed, you become responsible forever. You are responsible forever'
'One runs the risk of crying a bit if one allows oneself to be tamed...'
'be tamed' here means if you put a feeling towards someone. Well said, eh?
I ended up profoundly fond of this novella after I finished reading it. Though it may be considered as a children's book, it left the readers with deep thinking afterwards and let it be widely interpreted. So yes, contrary to my first impression, this is one of the books I'd like to label:
a-must-read :)
Subscribe to:
Posts (Atom)















